Artikel ini membahas Pajung ri Luwu sebagai gelar penguasa tertinggi Kedatuan Luwu yang berkaitan dengan simbol chhatra atau payung kedaulatan. Dengan membandingkannya dengan penggunaan payung kerajaan di Asia Tenggara, artikel ini mengajukan hipotesis bahwa Luwu memiliki kekhasan karena payung tidak hanya berfungsi sebagai regalia, tetapi juga menjadi identitas politik dan simbol perlindungan seluruh kedatuan.
Artikel ini menguji ulang lokasi Holing melalui pembacaan kronik Tiongkok, arah geografis, toponim, serta koridor Luwu–Mori. Dengan membandingkan Holing – Walaing, Po-li – Mori, To-po-teng – Tabating, Chen-la – Cendana, dan sejumlah nama lokal Sulawesi, artikel ini mengajukan hipotesis bahwa Holing mungkin berkaitan dengan jaringan kekuasaan kuno di Sulawesi, sekaligus membuka arah penelitian filologi, arkeologi, pemetaan, genetika, dan sumber lokal.
Di pegunungan sebelah barat Masamba, masyarakat adat Rongkong masih merawat warisan tenun leluhur yang kini nyaris punah — sehelai kain yang merajut sejarah, kepercayaan, dan identitas Tana Rongkong, salah satu wilayah adat tertua di Luwu Raya.
Sebelum Palopo berdiri sebagai jantung Kedatuan Luwu, ada Malangke — kota pelabuhan ramai di tepi Teluk Bone yang sempat menjadi pusat kekuasaan dan perdagangan, sebelum ditinggalkan penghuninya sekitar empat abad silam.
Di tepi Danau Matano, Luwu Timur, hidup salah satu komunitas adat tertua di Sulawesi Selatan — masyarakat To Karunsi'e Dongi. Selama lebih dari setengah abad mereka berjuang mempertahankan tanah leluhurnya dari perluasan tambang nikel, hingga sebagian besar wilayah pemukiman dan kuburan leluhur mereka kini berada di bawah lapangan golf milik perusahaan tambang.
Di balik tiang-tiang kayu dan atap yang menjulang, rumah panggung tradisional Luwu menyimpan peta kosmos sekaligus penanda halus tentang siapa yang boleh tinggal di dalamnya.